Matias Mairuma Harus Di-Makzulkan!

Jakarta, PASTI Indonesia – Mungkin sudah sangat Jenuh kita mendengar Korupsi membahana di Bumi Cenderawasih Sana, Hampir Semua Pejabat Daerah disana terlibat dalam Skandal Korupsi maupun Mark Up Anggaran. Hal seperti itu seolah lumrah dan pemandangan biasa. Karena tidak adanya ketegasan Negara dalam hal ini untuk melakukan tindakan yang lebih Kongkrit, bahkan Hukum positif seolah tidak berlaku di Bumi Cenderawasih. Masyarakat hanya di berikan tontonan Ketimpangan keadilan, dimana Pejabat Korup dibiarkan hidup bebas dan menikmati hasil korupsinya, dan Masyarakat harus menelan ludah melihat keterpurukan pembangunan yang terjadi.

Kasus Korupsi Papua bukan lagi menjadi perkara baru di telinga Masyarakat Jakarta, Mulai dari Korupsi di Kabupaten Fakfak yang Koruptornya (Bupati) masih bisa santai dan bersenang-senang macam Artis Desa,kemudian Mamberamo Raya yang dimana Koruptornya satu bisa menjadi Bupati Biak dengan tampilan macam pahlawan kesiangan yang ingin menolong masyarakat, dan Koruptor yang satunya lagi tidak malu-malu mau menjadi Bupati di Sarmi.  Nah, yang kali ini tidak kalah Heboh dan Luar biasa datang dari Kabupaten Kaimana. Yang Terlapornya adalah MAFIA  berSeragam Bupati bernama Matias Mairuma.

Matias Mairuma, Mungkin di telinga Jakarta kita Hanya mengenalnya sebagai Seorang Bupati Kaimana, tapi di Kaimana sana dia adalah seorang Raja, Diktator dan Preman serta Mafia Besar! hal ini bukan tanpa dasar atau hanya isapan jempol belaka! Matias Maimura bebas melakukan apapun di Kaimana sana, tanpa tersentuh Hukum, Mulai dari Pemalsuan Dokument yang bisa di tutup dengan rapih Polda Papua Barat berkat Bantuan Rekayasa PN Fakfak, Penembakan Kantor Capil Bak Koboy yang kasusnya di endapkan tanpa di proses,  memerintah Aparat Kepolisian Setempat Untuk melakukan Kriminalisasi terhadap Penggiat Anti Korupsi, hingga yang paling Anyar adalah Penipuan Publik atas Program Pendidikan ke Jerman yang dimana program tersebut sebenarnya adalah program Abal-abal yang dimana fungsinya untuk melakukan pengemplangan APBD Kab Kaimana, sedangkan Korbannya sudah jelas adalah 4 Adik-adik Asal Kaimana.

Sebagai Kepala Daerah, Matias Mairuma sepertinya lupa Tugas dan Fungsi Kepala Daerah sebagai perpanjangan Pemerintah Pusat dalam melakukan pembangunan, Status Sebagai Kepala Daerah hanya di Pakai Untuk Memperkaya diri yang serta merta menjadi salah satu faktor semakin terpuruknya kondisi ekonomi di Kaimana, Sebagai Seorang Kader PDI-P sepertinya Matias Mairuma Lupa, PDI-P adalah Partai Wong Cilik, yang sepatutnya mengutamakan Kepentingan Wong Cilik dari Pada Kepentingan Sendiri sebagai mana Pesan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Bahkan Presiden Jokowi sebagai Kader PDI-P terus menyuarakan kepada Setiap Kepala Daerah untuk terus mengutamakan Kepentingan Rakyat, Tapi Tampaknya Matias Mairuma memiliki Pandangan sendiri mengenai “Wong Cilik”.

Soal Memperkaya Diri, ini bukan hanya sekedar Opini atau tuduhan tanpa dasar, Sampai Saat ini bisa di lihat di Kaimana sana, beberapa Proyek Mangkrak dan Sudah melewati Tahun Anggarannya tapi tetap di-Anggarakan kembali pada Tahun berikutnya, Karena Proyek-Proyek Markup inilah membuat Matias Mairuma yang mantan Orang LSM ini memiliki harta kekayaan melimpah berupa Aset tidak bergerak Wilayah diluar Kaimana. Hal ini juga yang mungkin membuat Matias Mairuma Selama bertahun-tahun tidak pernah melaporkan LHKPN.

Yang Paling Anyar, dan yang sedang Ramai di Perbincangkan Masyarakat kaimana adalah persoalan Penipuan Public Program Studi ke Jerman yang memakan korban 4 adik-adik Asal Kaimana, Bahkan Saat ini DPRD Kaimana sedang membentuk PANSUS untuk melakukan penyelidikan, Semoga Pansus ini tidak Masuk Angin atau Sekedar bermain-main agar terlihat bekerja untuk Masyarakat Kaimana, Karena Persoalan ini sudah menyangkut Masa Depan generasi Muda Kaimana yang kelak menjadi Tulang Punggung Kaimana. Dari Bukti-Bukti yang di Peroleh PASTI Indonesia, baik melalui Pengakuan serta Bukti Pendukung yang Valid terkait Persoalan Pendidikan Abal-Abal ini yang merugikan Negara Hampir 20Milyar Lebih, Tentunya Perbuatan ini adalah Perbuatan Pidana selain Tindak Pidana Korupsi, tentu Tindak Pidana Eksploitasi Anak! Dimana sebelumnya ke Empat anak-anak ini di pakai untuk Kepentingan Kampanye Matias Mairuma, dalam Program Pilkadanya yakni PENDIDIKAN ADALAH JEMBATAN EMAS! 

Tentunya PASTI Indonesia tidak hanya beropini dalam hal ini, dalam waktu dekat Laporan Tindak Pidana Korupsi dalam Program Abal-Abal Pendidikan Ke Jerman akan segera di laporkan, beserta tindak pidana Eksploitasi Anak! Namun yang menjadi Pertanyaan Public dan Pertanyaan Kami juga (PASTI Indonesia_ RED) kepada DPRD Kab Kaimana, apabila Pansus yang bentuk menemukan Kejanggalan dan Penyimpangan terkait Program Abal-Abal Pendidikan ke Jerman ini, yang dimana sudah jelas Empat Anak-Anak Adat dari 8 Suku besar di kaimana menjadi korban didalamnya! Beranikah DPRD Kab Kaimana melakukan Pemakzulan?! Sebagai Catatan, Jangankan Soal Tindak Pidana, Hanya Karena Pernikahan saja, Seorang Bupati Aceng Fikri Di-Makzulkan. DPRD yang sebagai Perpanjangan Suara Rakyat dan di pilih oleh Rakyat, tentunya harus memiliki keberanian untuk membela rakyatnya, Akan menjadi sebuah Presden Buruk apabila 20 Orang Anggota Dewan Terhormat tindak mampu membela Rakyatnya dan kalah dengan 1 Orang Penguasa Lalim.

Sebagai Bentuk Antisipasi, PASTI Indonesia dalam Hal ini akan berdiri paling depan bersama Masyarakat Kaimana, untuk terus menyuarakan Aspirasi Masyarakat Kepada Pemerintah Pusat serta Terus  Melawan Semua Tindakan Pidana Korupsi yang terjadi di Kaimana. Karena Bagi Kami, Kekuasaan seseorang Tidak Ada yang ABADI! dan Republik ini Harus Bersih dari segala Tindak Pidana Korupsi sebagai Bagian Nawacita yang di Perjuangkan Presiden Jokowi! (Arlx)

Baca Juga : Merdeka Hanya Di Rasakan Seputaran Pulau Jawa, Untuk Papua Adalah Mer(d)eka!

[ot-video type=”youtube” url=”https://www.youtube.com/watch?v=HLMwTT0FE7w”]

[ot-video type=”youtube” url=”https://www.youtube.com/watch?v=pGa9GaBVPhY”]

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *