20
Mon, Nov

Waspada Pola Jebakan Putaran "Roda Setan" 501!

Sorotan
Typography

Fakfak, PASTI Indonesia - Permainan anak-anak bernama Kucing-Kucingan,yang dimana yang satu mencari dan yang lainnya berlari serta bersembunyi, seperti itulah yang saat ini dipertontonkan kepada Publik Fakfak oleh Bupati Fakfak dan sebagian besar Anggota DPRD yang katanya Wakil Rakyat. Masyarakat seolah di persulit sekali untuk mendapatkan kebenaran terkait Persoalan 501 ini, disamping itu beberapa pihak juga tampaknya berupaya agar Penyelesaian persoalan 501 ini menjadi bias dan tidak berujung.

Fakfak, PASTI Indonesia - Permainan anak-anak bernama Kucing-Kucingan,yang dimana yang satu mencari dan yang lainnya berlari serta bersembunyi, seperti itulah yang saat ini dipertontonkan kepada Publik Fakfak oleh Bupati Fakfak dan sebagian besar Anggota DPRD yang katanya Wakil Rakyat. Masyarakat seolah di persulit sekali untuk mendapatkan kebenaran terkait Persoalan 501 ini, disamping itu beberapa pihak juga tampaknya berupaya agar Penyelesaian persoalan 501 ini menjadi bias dan tidak berujung.

Contohnya Pada Pertemuan baru-baru ini di Kemendagri, terkait surat Bupati Fakfak sendiri yang mempertanyakan soal surat Klarifikasi Masalah Pilkada Fakfak, dimana Biro Hukum Kemendagri sendiri akhirnya mengundang pihak Muspida beserta beberapa perwakilan FORMASI (FORum MAsyarakat SIpil), Lucunya Bupati selaku Pihak yang mempertanyakan malah tidak menghadiri Pertemuan itu. Bahkan yang Lebih Lucu, Salah satu Perwakilan Muspida, Kajari Fakfak yang ikut hadir dalam Pertemuan tersebut, malah tampak sibuk mengarahkan bahwa persoalan Pilkada itu sendiri sudah selesai, dan tidak ada prosedur yang dilanggar, Namun ketika hal ini dibantah oleh perwakilan Formasi, bahwa selama proses pilkada itu ada terdapat Surat Edaran dengan Nomor 501 yang merugikan masyarakat fakfak, terutama hak demokrasi masyarakat fakfak yang terbunuh dengan adanya Surat Edaran 501 yang diyakini adalah Rekayasa. Setelah mendapatkan bantahan tersebut, seolah Linglung dan melepas badan, Kajari Fakfak mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui bahwa yang dibahas dalam pertemuan itu adalah Soal Surat Edaran 501, dan tidak akan mau menghadiri juga apabila ternyata yang dibahas itu adalah terkait Surat Edaran 501. Lucu kan? memangnya tidak dibaca surat undangan itu untuk membahas soal apa? alasan yang tidak logis. Mengatakan tidak Tahu soal 501, namun dalam rapat dapat mengarahkan! suka becanda memang Kajari Fakfak ini, makanya banyak sekali Kasus Korupsi di Fakfak dan Kaimana yang mentok selama kepemimpinannya, terutama Kasus Korupsi yang diduga melibatkan Kepala Daerah Fakfak dan Kaimana.

Dalam pertemuan di kemendagri ini sendiri, Formasi Menolak menandatangani hasil Pertemuan, karena bagaimana mungkin Formasi menyepakati bahwa sebuah Pilkada Sudah selesai, namun Prosesnya sendiri Cacat Hukum dan sebuah Surat Rekayasa dapat dijadikan dasar. Setelah usai Pertemuan,untuk ke-tiga kalinya Formasi menyurati dan mendatangi DPRD Fakfak guna memanggil Bupati untuk dimintai keterangan terkait Proses Pilkada Fakfak yang dimana saat itu, terdapat surat edaran Rekayasa yang dijadikan dasar. Seperti Kisah sebelumnya, untuk ketiga kalinya Masyarakat Fakfak yang Haus akan Kebenaran harus kembali gigit jari, Bupati tidak menghadiri Panggilan untuk ke-tiga kalinya, dan seolah hilang dari Dunia untuk beberapa saat bersama beberapa Anggota Dewan yang mengakunya Wakilnya Rakyat. Kemudian dikeluarkanlah kesepakatan, bahwa beberapa Anggota DPRD Fakfak akan mendatangi KPU RI dan BAWASLU RI untuk mencari kebenaran terkait surat edaran 501. untuk rencana kedatangannya sendiri baru diagendakan pada hari senin, 20 Maret 2017.

Yang Lucu dan Aneh, entah kesengajaan atau memang tidak mau kalah langkah, hari ini,kamis,16 Maret 2017 Bupati dan beberapa rombongan hilang meninggalkan Fakfak Menuju Jakarta, tercatat hampir sebanyak 3-4 kali Bupati Fakfak, Mohammad Uswanas meninggalkan Fakfak Menuju Jakarta tanpa agenda Jelas. Tentunya Hal ini semakin mendorong Presepsi Buruk Masyarakat kepada Bupati Fakfak, Mohammad Uswanas yang memang terkenal dengan banyak skandal Korupsi selama kepemimpinannya. Publik tentunya akan bertanya-tanya, apabila Bupati tidak bersalah dan kalau memang benar Proses Pilkada Fakfak tidak cacat hukum, mengapa Bupati harus mangkir tiga kali dari panggilan DPRD Fakfak, dan apabila memang Surat Edaran 501 itu adalah Bukan surat rekayasa, mengapa Bupati harus sibuk bolak balik Jakarta tanpa ada sebab jelas? dan mengapa seolah tidak mau kalah langkah, sebelum team DPRD resmi yang ditugaskan mencari Kebenaran Terkait 501 ini sampai ke Jakarta, kubu Bupati Fakfak harus sudah sampai duluan di jakarta? Aneh bukan?!

Melihat Persoalan 501 yang seolah memang sudah di Setting supaya Lambat dalam Penyelesaian dan berujung pada Titik Buntu, Maka PASTI Indonesia menyerukan kepada Masyarakat selaku yang dirugikan dalam hal ini agar tidak masuk dalam jebakan Putaran "Roda Setan" yang memang tujuannya agar masyarakat terjebak dalam Arus Permainan tersebut, yang dimana nantinya untuk penyelesaian persoalan itu sendiri tidak pernah berujung dan hanya berputar dalam lingkaran itu saja, dari daerah di lempar ke Jakarta untuk di cari kebenarannya,setelah dari Jakarta, kemudian dikembalikan lagi kedaerah agar penyelesaiannya dilakukan didaerah, hingga akhirnya bolak balik seperti itu dan buntu tanpa penyelesaian. Dan disisi lain Fungsi jebakan "Roda Setan" juga untuk menghambat langkah perjuangan, guna memberikan ruang bagi Pelaku untuk mempersiapkan dengan matang segala upaya untuk mencari dan melakukan PEMBENARAN atas skandal ini.

Oleh karena itu, Masyarakat Fakfak terutama kaum muda harus lebih kritis dan cermat melihat skema-skema seperti ini, karena ini adalah Skandal Besar yang Menipu Negara, tentunya tidak mungkin hanya melibatkan 1 pihak saja, akan banyak pihak yang berjatuhan apabila kasus ini terbukti kebenarannya. hilangnya Para Anggota Dewan yang katanya Wakilnya Rakyat pada saat Rapat terkait 501 ini juga harus di pertanyakan dan di kritisi, terutama terkait sumpah mereka ketika dilantik itu bekerja untuk Rakyat atau bekerja untuk sekelompok orang dengan menjual nama Rakyat?! karena bila memang benar bekerja untuk Rakyat, tentunya Persoalan 501 ini adalah persoalan besar, dan Persoalan Ribuan Rakyat Fakfak! oleh karena itu Anggota Dewan yang tidak menghadiri Rapat soal Rakyat Fakfak ini perlu di garisbawahi dan ditelusuri, karena jelas sebagaimana tulisan diatas, bahwa persoalan besar ini tidak hanya melibatkan 1 orang. (arlex)