20
Mon, Nov

BANGSAL, Sebuah Nama Sebuah Cerita

Dibuang Sayang
Typography

Jakarta, PASTI Indonesia – Mungkin di benak setiap orang, ketika mendengar kata Bangsal indentik dengan Sebuah Rumah Besar dari Kayu atau Balai yang berfungsi sebagai tempat berkumpul atau melakukan pertemuan.

Namun Bangsal yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah nama sebuah Kampung kecil yang jauh dari Pusat Keramaian, yang terletak di Stabat, Langkat, Sumatera Utara. Adapun terdapat sejarah panjang dan Pilu mengenai asal dan penamaan kampung ini.

Jakarta, PASTI Indonesia – Mungkin di benak setiap orang, ketika mendengar kata Bangsal indentik dengan Sebuah Rumah Besar dari Kayu atau Balai yang berfungsi sebagai tempat berkumpul atau melakukan pertemuan.

Namun Bangsal yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah nama sebuah Kampung kecil yang jauh dari Pusat Keramaian, yang terletak di Stabat, Langkat, Sumatera Utara. Adapun terdapat sejarah panjang dan Pilu mengenai asal dan penamaan kampung ini.

Berawal dari paskah penggulingan Soekarno dan terjadinya Ganyang PKI yang merebak di Sumatera Utara pada era 1965 sd 1967 yang menewaskan banyak penduduk terutama di Medan dan sekitarnya, pada dekade yang sama tepatnya pada Tahun 1968 dengan dalil aturan PP 10 1959 dan Ganyang PKI, terjadi Pengusiran Besar – Besaran Terhadap orang Tionghoa di daerah Aceh Tepatnya Kuala Langsa dan Kuala Simpang.

Pada Tengah Malam Warga Tionghoa di Kuala Langsa dan Kuala Simpang di kejutkan dengan penyerangan dan penyergapan oleh masyarakat, dengan membawa berbagai senjata tajam maupun tumpul memaksa setiap warga Tionghoa yang ada disana untuk keluar, tentunya untuk para lelaki dewasa tionghoa tidak luput dari penganiyayaan dan kekerasan. Mulai dari di pukuli hingga di paksa minum air kumbangan kalau memang bukan orang PKI atau kalau mau selamat. Malam itu juga Warga Tionghoa yang ada di paksa meninggalkan kediaman mereka tanpa membawa harta benda apapun, dan tidak boleh lagi berada di wilayah Kuala Langsa dan Kuala Simpang.

Malam hari itu terjadi eksodus besar-besaran Tionghoa yang di usir tersebut menuju Ke Medan, setelah beberapa waktu lamanya berjalan maka ditemukanlah sebuah lahan kosong di dekat medan kemudian mendirikan sebuah bangunan Rumah besar yang dihuni oleh ratusan keluarga yang kemudian di kenal dengan nama “ NAN MIN SO / Bangsal Besar”.

Mendengar banyaknya pengusiran terhadap masyarakat Tionghoa di Indonesia, Maka Pemerintah RRT melalui Perdana Menterinya Zhou En Lai Marah besar. Kemudian memutuskan untuk memulangkan semua masyarakat Tionghoa yang ada di Indonesia baik yang sudah memiliki kewarga negaraan Indonesia ataupun yang belum ( pada saat itu masih banyak warga Tionghoa yang memiliki Dwi Kewarganegaraan).

Masyarakat Pengungsi saat itu beberapa ada yang berbahagia karena dipulangkan, dan tidak merasakan lagi penyiksaan, dan beberapa ada yang binggung dan sedih karena pada dasarnya mereka sudah Lahir di Bumi Indonesia ini dan merasa ini adalah Tanah air mereka. Serta beberapa yang bimbang karena tidak tau apa yang akan terjadi nanti bila kembali ke RRT, karena belum tentu mengenal sanak-keluarga mereka disana.

Setelah keputusan diambil Pemerintah RRT dan Indonesia yang saat itu sudah berada di Rezim Soeharto, maka disepakatilah Kapal Induk dari RRT akan masuk untuk mengangkut semua masyarakat Tionghoa yg menjadi korban penggusiran. Kapal Induk Pertama dari RRT datang ke Indonesia, Hampir sekitar 5000 Keluarga lebih se Indonesia yang diangkut pulang kesana. Untuk Periode pertama ini, yang di utamakan adalah Orang Tua dan Anak-anak yang masih kecil serta yang belum menikah. Dari penuturan mereka yang dipulangkan, hampir 3 bulan mereka hidup diatas kapal laut, apabila ada yang meninggal maka di doakan kemudian jenasahnya di hanyutkan kelaut.

Kemudian Kapal Induk kedua datang, hampir 3000 Keluarga lebih se Indonesia yang dibawa pulang. Samahalnya dengan yang pertama yang di utamakan adalah Orangtua dan Anak-anak kecil ,mereka yang belum menikah dan masih memiliki kewarganegaraan Ganda.

Setelah Kapal Induk kedua pergi, dan akan disusul kapal Induk ketiga untuk mengangkut sisa semua warga Tionghoa yang ada. Ternyata Pemerintah Indonesia berubah pikiran, dengan pertimbangan Ekonomi yang mungkin akan terpengaruh karena seperti yang di ketahui warga Tionghoa memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Maka Pemerintah Saat itu di pegang oleh Soeharto bernegosiasi dengan Pemerintahan RRT, yang dimana Pemerintah Indonesia menjamin Keselamatan Masyarakat Keturunan Tionghoa serta memberikan indentitas Kewarganegaraan yang Sah.

Karena merasa Memiliki Ikatan yang kuat dengan Pemerintah Indonesia, terutama di Jaman Soekarno. Maka kesepakatan itu diambil, Pemerintah RRT tidak lagi mengirimkan Kapal Induk untuk Membawa Masyarakat keturunan Tionghoa kembali ke RRT.

Masyarakat Tionghoa yang ada di Camp-Camp Pengungsian, terutama yang berada di “NAN MIN SO/BANGSAL BESAR” pada awalnya tidak mengetahui bahwa kapal Induk ketiga tidak akan pernah datang, mereka terus menanti. Hingga akhirnya melalui pemberitahuan oleh kepala Camp yang mengurusi soal Pemulangan ke RRT, yang memberitahukan bahwa tidak ada lagi Kapal Induk yang akan datang karena itu sudah menjadi kesepakatan Pemerintah Indonesia dengan RRT.

Mendengar Hal itu mayoritas yang ada di Camp pengungsian NAN MIN SO bersedih, bukan bersedih karena tidak dapat kembali ke RRT dan harus menetap di Indonesia, namun bersedih karena harus berpisah dengan Sanak-Family yang sudah terlanjur ikut di pulangkan ke RRT pada kapal Induk pertama dan Kedua.

Dikarenakan Sudah tidak ada lagi Kapal Induk yang akan datang, Masyarakat di Camp pengungsian NAN MIN SO akhirnya tabah dan kemudian hidup di dalam camp sambil bercocok tanam, mencoba membuat makanan untuk di jual. Hingga akhirnya pada suatu hari karena kelalaian penghuninya, NAN MIN SO terbakar hebat, walau tidak ada korban jiwa namun semua sisa harta dan benda yang berhasil di kumpulkan dengan berjualan atau bercocok tanam ludes terbakar. Disini lah Awal NAN MIN SO/BANGSAL BESAR Bubar. Karena sudah terbakar habis, beberapa penghuni yang memiliki Sanak-family di Medan atau di kota lainnya memilih ikut tinggal bersama familynya.

Beberapa Pengusaha Tionghoa di Medan dan di daerah-daerah lain, ternyata mendengar persoalan ini, akhirnya mereka mengumpulkan uang untuk membantu masyarakat di camp pengungsian yang sudah terbakar itu. Dari uang yang terkumpul kemudian dibagikan dan sebagian di kumpulkan untuk membeli tanah baru untuk tempat tinggal warga Tionghoa pengungsi ini. Dari kebakaran NAN MIN SO ini akhirnya para penghuninya yang eks pengungsi ini berpencar dan menjadi 5 kelompok serta menempati 5 wilayah diantaranya ada di BELAWAN MEDAN,di KM12, di TANDEM STABAT dan yang terakhir di PERDAMAIAN STABAT yang kemudian lebih di kenal saat ini Sebagai BANGSAL.

Oleh salah satu kelompok,sisa uang tersebut dibelikanlah sebidang tanah bekas perkebunan di daerah stabat yang luasnya tidak lebih dari 1 hektar. Adapun Lokasi tersebut sangat sulit di akses, dari kota Medan bila berkendaraan masih memakan waktu 2 s/d 3 jam atau bila berjalan kaki sekitar ¾ hari hingga sehari baru tiba di kota Stabat kemudian masuk lagi ke perkampungan lalu ke sebuah bekas perkebunan, bekas perkebunan inilah yang kelak akan berdiri sebuah perkampungan Tionghoa bernama BANGSAL saat ini.

Bekas Tanah perkebunan tersebut kemudian di bersihkan dan apabila terdapat pohon-pohon besar, maka kelak pohon tersebut di jadikan kayu sebagai bahan baku bangunan rumah. Setelah di bersihkan, Tanah di bagi-bagikan kepada para pengungsi dengan cara adil, dimana dibagi perkeluarga dengan luas tanah mengikuti jumlah anak atau keluarga yang akan tinggal disana. Bila memiliki keluarga besar, maka tentu luas tanah yang di dapatnya lebih besar. Setelah selesai dalam perihal pembagian, maka para penghuni bergoyong-royong untuk membangun rumah, hari ini rumah A, setelah rumah A selesai maka berganti ke rumah B dan seterusnya,hingga akhirnya rampung semua rumah tinggal, dengan jumlah sekitar seratus lebih sedikit dengan 4 gang yang memisahkan masing-masing blok.

Awal kehidupan Masyarakat Tionghoa di tempat baru ini tidaklah mudah, masyarakat mulai menghidupi diri mereka sendiri dengan semua kemampuan yang mereka punyai, ada yang berdagang dengan cara membuat minyak goreng dari kelapa kemudian menjajakannya keluar dari kampung hingga ke binjai dengan berjalan kaki sambil mengendong anak, ada yang mulai bercocok tanam di depan pekarangan,menjadi tukang bangunan dan perabotan hingga berbagai profesi di geluti demi menjaga kelangsungan hidup. Seluruh Masyarakat di kampung ini setiap harinya berbicara dalam bahasa Mandarin, Hokkien, beberapa lagi berbicara bahasa Khek dengan dialeg Langsa,bahkan boleh di katakan hanya beberapa saja yang mampu dan bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Di tempat masih dapat belajar pendidikan Tionghoa walau secara sembunyi-sembunyi, hiruk pikuk seperti itu berlalu setiap hari. hingga akhirnya generasi selanjutnya lahir di kampung ini.

Masyarakat yang sudah berpuluh-puluh tahun berjuang, lambat laun memiliki sedikit uang. Kemudian mencoba peruntungan melirik usah peternakan, ya peternakan babi tentunya. Ini juga yang mungkin membuat masyarakat luar mengenal kampung ini, karena sebagai kampung penghasil babi terbanyak.

Ya yang tidak enak tentu ada, pada jam-jam tertentu akan tercium bau tidak sedap yang keluar dari kandang babi tersebut hingga tercium kemana-mana.

Sesuatu yang menarik kerap terjadi di tempat ini, tepatnya setiap pemilu. Malam sebelum esok hari dilakukan pemilu, aparat Negara sudah datang mampir untuk mengarahkan warga untuk memilih dan mencoblos salah satu parpol. Ya sudah tidak salah lagi, tentu GOLKAR, dengan sedikit Intimidasi, kalau sampe satu kampung ini tidak memilih golkar, ya siap-siap nanti di persulit semua. Atau menakut-nakuti kalau sampe GOLKAR kalah, dan parpol lain yang menjadi Presiden maka siap-siap nanti kena potong kepala karena “cina” itu tidak di sunat. Tentunya setiap pengambilan suara, GOLKAR menang mutlak di Bangsal.

Pada Dekade 1990an, TVRI Sumatera pernah menyoroti dan meliput “BANGSAL” sebagai Desa mandiri dan memberikan penyuluhan terhadap Rabies, karena di kampung itu juga hampir setiap rumah memiliki Anjing sebagai penjaga rumah. Karena pertumbuhan Ekonomi bangsal yang signifikan, di sekitar tahun 1992an Mulai dibangun Sekolah Swasta di Kampung itu yang bernama Sekolah Suci Dharma, kemudian berganti menjad PANCA KARYA.

Pemilu terakhir Rezim Soeharto, Yakni 1996. Masyarakat pernah di janjikan akan akan dibuatkan jalan aspal karena memang sejak awal jalanan di Bangsal itu adalah jalan berbatuan. Tapi ya seperti biasa masyarakat juga tidak berharap banyak, dan faktanya memang benar tidak ada pembangunan jalan aspal bagi kampung itu. Baru pada Tahun 2008, saat Syamsul Arifin terpilih menjadi Gubenur sumatera, jalan di Bangsal baru mendapatkan perhatian dan di buatkan aspal.

Dengan seiringnya generasi-geransi baru kelahiran era 80-an tumbuh menjadi dewasa, hampir sebagian besar dari mereka memilih merantau keluar dari Bangsal dan mencari rezeki di Kota-kota besar dan menetap disana. Hanya kembali ke Bangsal di hari-hari kebesaran tertentu seperti Imlek, Cheng beng (Sembahyang Kubur), yang tersisa saat ini tinggal di Bangsal hanyalah generasi Tua yang masih Hidup serta merasakan pahitnya Pengusiran dulu dan Anak-anak dibawah umur yang masih bersekolah.

Lambat laun Bangsal Hanya akan menjadi Sebuah Kampung kenangan, ketika semua Generasinya sudah lupa tentang Sejarah dan kisah mereka.. Inilah Bangsal, Sebuah Nama Sebuah Cerita. (Arlex)

Sumber : Redaksi Sendiri