Connect with us

Sental Sentil

Ketua Pembina PASTI Indonesia : YUNUS BASARI, Terima Tantangan Tapi Set Private? MEMALUKAN!

Published

on

Jakarta (PASTI INDONESIA) – Terkait videonya yang viral, ketua pembina PASTI Indonesia, Arlex Susanto menyatakan sangat senang jika tantangannya di sambut oleh Yunus Basari. Dengan diterimanya tantangan ini justru semakin membuat kasus-kasus korupsi di Fakfak semakin terblow-up.

Sesuai dengan apa yang dituliskan dalam Facebooknya, tantangan terbuka untuk siapapun yang menyatakan bahwa Skandal Mega Korupsi Kabupaten Fakfak yang di paparkan ketua pembina PASTI Indonesia melalui videonya adalah hoax, boleh menantang untuk melakukan pembuktian secara publik di depan aparat penegak hukum, mahasiswa fakfak, auditor independen, serta tetua adat di fakfak!

Supaya fair dan jelas, maka penantang juga harus siap membuat surat pernyataan “Turut serta” (Pasal 55 KUHP JO UU TIPIKOR) dan sebagai penikmat Anggaran Korupsi (UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No. 31 Tahun 1999 Jo. Pasal 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang atau TPPU), karena jelas jika ketua pembina PASTI Indonesia melakukan hoax maka jelasnya sanksi pidana UU ITE.

Namun sayangnya tantangan terbuka ini hanya di jawab dengan status facebook di akun Pribadinya Yunus Basari yang ternyata di set Private dan hanya bisa di baca oleh mereka yang memiliki pertemanan dengannya. Agaknya cukup memalukan!

Setelah sekian lama mencari informasi (karena tidak pernah mendengar nama yang bersangkutan baik di jaringan Aktivis Nasional maupun di jaringan Pengacara HAM Nasional) baru diketahui oleh admin, ternyata Yunus Basari ini adalah seorang Advocat. Lah,advocat kok lebih lembek dari alpukat? tulis terima tantangan saja harus dalam status facebook yang diset private.

Ketua Pembina PASTI Indonesia sendiri pun langsung merespon tantangan yang dianggapnya “cukup BANCI” dan hanya memprovokasi masyarakat tertentu, karena hanya menulis status “Tantanganmu saya terima dan tunggu tanggal mainnya” itupun ditulis dalam status facebooknya yang diset private.

Arlex Susanto sendiri selaku Ketua Pembina PASTI Indonesia menyatakan kapanpun siap, kalau memang punya bukti ya tidak usah tunggu tanggal main, tinggal tetapkan saja  waktunya dan langsung pembuktian! Sebagai sesama yang pernah menimbah ilmu hukum, Arlex Susanto sendiri mengigatkan jangan berlindung di balik UU Advokat, seolah bekerja untuk klien. Tantangan Arlex Susanto itu jelas, buat siapapun yang menantang, buat surat pernyataan ikut serta dan sebagai terlibat sebagai penikmat, jika jelas data dan fakta yang di paparkan adalah Tindak pidana Korupsi. Jika Yunus Basari sendiri tidak mengerti pembuatan surat pernyataan yang dimaksud,admin PASTI Indonesia siap membantu membuatkan surat pernyataan tersebut.

Ketua Pembina PASTI Indonesia sendiri,arlex menilai Yunus Basari ini hanya cari panggung. Pertama karena sedang sepi job, sebagaimana yang kita ketahui bersama kondisi covid seperti ini membuat hampir semua profesi mengalami “sepi melandai”. Kedua ingin nama naik dengan menumpang cari tenar melalui tantangan terbuka terkait Skandal Mega Korupsi kabupaten Fakfak, karena dari Jaringan Aktivis Nasional dan jaringan  lembaga pembela HAM dan Anti KORUPSI tidak ada yang mengenal nama orang ini.

Ketua tim Advokasi PASTI Indonesia sendiri yang di gawangi oleh aktivis Senior  UI dan pengacara Publik, Suma Mihardja menertawakan jawaban tantangan ini, dan tentu dari tim advokasi PASTI Indonesia sangat senang dan siap mengawal Ketua Pembina PASTI Indonesia untuk membongkar Skandal Mega Korupsi Kabupaten Fakfak.

Selain hal tersebut diatas, PASTI Indonesia sendiri menemukan tindakan tidak terpuji dari Postingan Facebook yang dilakukan oleh Yunus, oleh karena itu dalam waktu dekat PASTI Indonesia sendiri akan melakukan pelaporan kepada BARESKRIM POLRI dan DPP PERADI dimana diketahui bahwa Yunus Basari ini dibernaung dibawah PERADI.

  • Pertama, Sebagai seorang advocat, tindakan Yunus Basari telah mencoreng citra advocat! Yakni melakukan tindakan Doxing yang jelas itu ilegal dan itu adalah tindakan pidana sebagai diatur dalam pasal 26 dan pasal 45 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronika (ITE) nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan UU No 11 tahun 2008.

Agaknya cukup bodoh untuk seorang Yunus Basari  yang menyebut dirinya sebagai Advocat, atau minimal pernah belajar hukum namun praktiknya disini turut serta melakukan tindakan pidana berupa doxing! yang dimana tindakan doxing ini jika disalahgunakan dapat berakibat pada keselamatan jiwa seseorang! Bodoh Betul memang! advocat macam apa yang mencorong citra advocat itu sendiri! belajar lagi Undang-undang! apa itu Doxing!

  • Kedua, setelah melakukan doxing terhadap data Ketua Pembina PASTI Indonesia, tujuan daripada Postingan private Yunus Basari adalah untuk memprovokasi pihak tertentu untuk melakukan tindakan-tindakan yang memberikan ancaman pada keselamatan jiwa orang lain. Dalam hal ini, Yunus lebih bertindak sebagai Provocator daripada sebagai orang yang mengerti hukum! yang dimana isi komentar pada postingan Yunus lebih kepada tindakan kekerasan dan ancaman pembunuhan. hal ini jelas berbeda sekali dari tantangan pembuktian skandal Mega Korupsi Kabupaten Fakfak.
  • Ketiga, Pelanggaran Etik sebagaimana yang dimaksud dalam UU Advocat no 18 Tahun 2003, fungsi advocat adalah penasehat dan pendamping hukum, namun peran yang Yunus lakukan bukan lagi sebagai penasehat hukum  namun lebih kepada keikut sertaan dalam melindungi Skandal dan tampil bak Preman dengan melakukan Doxing dan Provokasi!

Hal semacam ini tidak boleh dibiarkan dan didiamkan, sebagai selain mencoreng wibawa hukum seolah Advocat boleh melakukan tindakan apapun termasuk pelanggaran hukum, citra advocat yang selama ini terbangun baik akan tercoreng oleh oknum-oknum seperti Yunus!

PASTI Indonesia selaku lembaga secara resmi siap melayani Yunus Basari secara hukum! terlepas dari tantangan pembuktian skandal Mega Korupsi Fakfak yang dilakukan oleh Arlex selaku Pribadi, secara organisasi PASTI Indonesia sendiri melihat tindakan keterlaluan berupa Doxing terhadap data Arlex selaku Ketua Pembina PASTI Indonesia, yang dimana didalamnya juga terpapar KTA resmi PASTI Indononesia. Oleh karena itu, PASTI Indonesia selaku lembaga akan mempersoalkan hal ini secara hukum! (admin)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending