Connect with us

Anti Korupsi

Pilkada Fakfak Bukan Soal Menang Kalah, Tapi Persoalan Skandal Mega Korupsi!!

Published

on

PASTI Indonesia, Jakarta – Pemungutan suara telah usai di fakfak, namun proses akhir masih menunggu keputusan MK untuk menerima atau menolak permohonan kubu SADAR. Jika menelik permohonan Sengketa Hasil Pemilu  milik kubu SADAR jelas banyak kerancuan yang dipaksakan, mulai dari persoalan Verifikasi Faktual yang seharusnya bukan menjadi ranah MK tapi diranah Bawaslu hingga tudingan tanpa dasar yang mengaitkan video “Kampanye Anti Korupsi – Tolak Pelaku Korup menjadi Pemimpin” pembina PASTI Indonesia, arlex sebagai bagian dari TSM (Terstruktur – Sistemik dan Masif). Padahal jelas menyambut hari Anti Korupsi Dunia, PASTI Indonesia sebagai lembaga yang kerap menyoroti korupsi di tanah Papua dan Papua Barat selalu melakukan kampanye ANTI Korupsi! jika mempersoalkan itu, seharusnya tim kuasa hukum SADAR mempersoalkan mengapa PILKADA serentak harus jatuh pada hari ANTI Korupsi sedunia, 9 Desember. Mungkin ini yang disebut SADAR lupa SADAR DIRI!!

PASTI Indonesia sendiri sangat menyayangkan,apabila video “Kampanye Anti Korupsi – Tolak Pelaku Korup menjadi Pemimpin” dipergunakan oleh oknum-oknum tertentu hanya untuk sekedar mengejar kemenangan salah satu Paslon dalam Pilkada Fakfak. Padahal jelas yang sampaikan adalah KORUPSI besar di Negeri Mbaham-Matta yang menjadi lawan Pemerintahan Pusat untuk melakukan pembangunan di daerah! Dan itu harus dilawan bersama untuk Fakfak yang Bersih, Humanis dan Merakyat! 

Seharusnya setelah penyampaian fakta dan data terkait skandal mega korupsi Kabupaten Fakfak yang Pembina PASTI Indonesia melalui video secara tegas dan gamblang, ditambah masyarakat yang mulai terbangun kesadarannya untuk tidak memilih Pelaku Korup menjadi Pemimpin, maka moment itu adalah moment terbaik untuk bersatu padu melawan Korupsi di tanah Mbaham-Matta. Namun ini seolah dibiarkan, dan membiarkan pelaku korup yang mencoba menjadi kepala daerah ini “leluasa melakukan perlawanan”, ada apa?

MASYARAKAT Fakfak yang APATIS

Selama 10 tahun ini, korupsi disegala lini terjadi di Kabupaten Fakfak, mulai dari Pejabat Teras atas, Wakil Rakyat hingga pejabat kecil kelas kepala kampung. Hal ini dapat terjadi karena selama ini masyarakat sangat APATIS, sebagian hanya berlindung pada rezim korup untuk tetap dapat bertahan hidup dengan menjadi penjilat, sebagian lagi memilih diam dengan berbagai alasan, mulai dari keamanan hingga persoalan “demi cari makan”. Akhirnya pola DIAM mayoritas ini kemudian melahirkan “Kingkong” dimana Pejabat Daerah yang seharusnya menjadi perpanjangan tangan Pemerintah Pusat dalam melakukan percepatan dan pemerataan pembangunan, malah menjadi Raja kecil di daerah. Sepertinya masyarakat lupa, kejahatan akan terus hidup dan tumbuh subur, ketika orang-orang memilih diam dan mendiamkan!

Dan yang paling miris adalah, ketika banyak yang menyebut diri sebagai Anak Negeri, tapi ikut menikmati negeri hancur karena korupsi! menyebut sebagai Anak Negeri, tapi membiarkan saudara/i nya petani pala hidup dalam nestapa permainan harga tengkulak, membiarkan saudara/i nya yang di dusun-dusun sana kesulitan air bersih, listrik dan jaringan telephone. Menyebut Anak Negeri tapi lupa bahwa Anak Negeri tidak pernah menjual hak kesulungannya dan membiarkan negeri hancur dengan pembodohan! Agaknya mereka lupa bahwa “seorang tuan rumah tidak akan pernah berunding dengan maling yang menjarah rumahnya!”

KORUPTOR BESAR “Kingkong Fakfak” MASIH PEMENANG PEMILU KALI INI

Hasil Pilkada Fakfak 2020 memang masih menunggu keputusan MK, namun cerdiknya seorang Koruptor Besar, Mohammad Uswanas (Mocha), siapapun yang akan menang dalam pilkada ini akan tersandera dengan keputusan lamanya sebagai Bupati! mulai dari banyaknya proyek mangkrak yang dananya sendiri sudah terkuras habis karena korupsi, hingga tanah ulayat masyarakat yang dihibahkan untuk Pemerintah Pusat! APBD Fakfak akan terpakai untuk menanggung pembayaran atas hak tanah ulayat yang dihibahkan untuk Bandara Siboru, belum lagi terkait tanggung jawab lama,penyelesaian proyek mangkrak!.

KABUPATEN TUA, KABUPATEN MENDERITA TANPA PEMBANGUNAN NYATA

Fakfak adalah Kabupaten tua, yang jika ditelisik dari catatan masalalu, hampir semua guru berasal dari kabupaten ini, kabupaten yang dikenal sebagai Kabupaten yang “Pertama kali mengenal bahasa“, karena letaknya yang pesisir. Namun kisah masalalu ini agaknya tidak pernah “terekam” dengan baik dalam memori para kepala daerah, khususnya 10 tahun ini. Yang terjadi selama 10 tahun ini hanyalah pembangunan OMONG KOSONG yang sangat nyata!

Bagaimana ada niatan pembangunan nyata? sejak awal terpilih 2010 saja, dana kampung hilang tidak jelas dan sampai detik ini tidak dapat di pertanggung jawabkan! proyek pengadaan di rumah sakit umum daerah, dipakai memperkaya diri sampai dokter menyerah mengundurkan diri. Ranch Bomberai hanya dipakai tipu-tipu! Siboru tahap pertama cuma modal cerita yang dimana anggarannya di korupsi dan kayu-kayu menjadi saksi bisu timbunan untuk lokasi bandara! yang lebih luar biasa, hari jadi kota pala ke-113 saja bisa dipakai untuk ajang pencurian dan pengumpulan pundi kekayaan, dimana markup dan dana hibah menjadi bajakan bersama!

Periode kedua, tidak kurang “menggila” tanah bekas dinas kebudayaan dan pariwisata di jadikan harta hibah dan dibangun rumah megah! GERBANG KACA, listrik saja mati-nyala! Tanah ulayat siboru di hibahkan ke Pemerintah Pusat, padahal ada hak masyarakat belum terbayarkan! Pembangunan Tower Telkom di stop hanya karena tidak ada setoran, padahal jelas masyarakat membutuhkan! Dana Kampung banyak potongan, dengan dalil transportasi dan pajak! Kantor BAWASLU Kabupaten Fakfak menjadi persoalan, uang entah hilang ditelan kemana! dan yang paling parah, pembangunan terhenti karena pilkada, dimana uang habis jagoannya kalah!

Mocha memang andalan dalam hal cuci tangan, gelar doctor tidak jaminan adanya sedikit pikiran untuk pembangunan! jika menelik kata Rocky Gerung benar adanya, gelar akademisi itu hanya menandakan anda menempuh pendidikan, bukan bearti anda punya pikiran!

Suara Murni Masyarakat HARUS DI SELAMATKAN

Suara murni masyarakat fakfak yang rindu perubahan itulah yang mengantarkan pasangan SADAR tenggelam dalam perhelatan Pilkada 2020! Kemenangan ini jelas kemenangan Masyarakat yang terlalu muak dengan janji dan omongkosong pembangunan yang dimana berujung pada korupsi. Agaknya amanah masyarakat ini yang kemudian bergeser menjadi hanya sebatas seolah sorak sorai kemenangan salah satu paslon! Namun lupa untuk mengantarkan para Koruptor ini menuju jeruji besi! euforia berlebihan hanya memberikan kesempatan pada para terlapor korupsi Kabupaten Fakfak untuk mengatur strategi dan perlawanan.

Fakfak jelas butuh perubahan, dan untuk mencapai perubahan itu, para pelaku korup mulai dari teras atas sampai bawah harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka, dan itu yang PASTI Indonesia kejar!

Pembina PASTI Indonesia telah siapkan jawaban untuk MK dan Laporan Korupsi

Komunikasi terakhir dengan pembina PASTI Indonesia, Arlex melalui sms. Dirinya menjelaskan dirinya baik-baik saja walau teror semakin genjar dilakukan oleh mereka yang sudah sangat terganggung dengan kasus korupsi yang ia paparkan. dirinya juga sudah selesai membuat jawaban untuk MK dan Bareskrim terkait video “Kampanye Anti Korupsi – Tolak Pelaku Korup menjadi Pemimpin” yang viral di Fakfak dan Kaimana. Beberapa laporan korupsi baru Kabupaten Fakfak juga sudah rampung di susun dan tinggal di laporkan kepada KPK dan BARESKRIM serta beberapa laporan ke Ombudsman RI, namun menurutnya saat ini, langkahnya menjadi sangat pendek karena banyaknya teror yang membuatnya tidak leluasa bergerak.

PASTI Indonesia sendiri Fokus pada KORUPSI Fakfak

Senada dengan Pembina PASTI Indonesia, Ketua Divisi Hukum dan Advokasi, Suma Mihardja yang juga Ketua LBH Masyarakat. PASTI Indonesia akan hanya akan tetap fokus pada kasus Korupsi Kabupaten Fakfak dan juga akan selalu memberikan pendampingan Hukum kepada pembina PASTI Indonesia, Arlex.

Ketua PASTI Indonesia sendiri, Denny Rahayaan, menyatakan memang sejak awal PASTI Indonesia sendiri tidak ada dalam ranah pilkada Kabupaten Fakfak 2020,khususnya dalam dukung mendukung salah satu paslon, PASTI Indonesia sejak awal hanya mendorong adanya “Paslon Independent” agar Pilkada Fakfak 2020 ini bersih dari segala keterikatan parpol. Dan PASTI indonesia secara Organisasi dengan tegas dan jelas tidak memberikan dukungan kepada kandidat manapun! Terkait dengan video “Kampanye Anti Korupsi – Tolak Pelaku Korup menjadi Pemimpin” oleh Pembina PASTI Indonesia, dirinya menegaskan, bahwa itu adalah kebiasaan lama yang dilakukan ketua terdahulu mulai dari Arlex hingga Jhon Mandibo. Dan kontennya jelas persoalan korupsi! kalaupun kemudian ada oknum yang memanfaatkan itu sebagai kampanye paslon tertentu ya itu harus dipertanyakan kembali pada oknum tersebut, tegas denny.

KORUPSI adalah BAHAYA LATEN

Korupsi sendiri adalah penyakit masyarakat yang sangat mematikan, kejahatan yang tergolong extraordinary! karena korupsi itu sendiri bukan hanya membunuh satu orang, tapi kehidupan masyarakat dan masadepan anak-anak! karenanya tidak boleh ada toleransi terhadap perilaku korup, dengan membiarkan korupsi itu terjadi, maka sama halnya kita membiarkan masa depan anak-anak terbunuh. Perjuangan melawan korupsi di Kabupaten Fakfak ini bukan tugas PASTI Indonesia sendiri, tapi menjadi kewajiban bersama untuk memerangi bahaya laten itu.

“Kejahatan akan terus tumbuh apabila mayoritas masyarakat mendiamkan itu, dan ingatlah seorang tuan rumah tidak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya”. (admin)

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending