Connect with us

Anti Korupsi

Fakfak, Rezim Baru?? Atau Rezim BAU?!!!

Published

on

Jakarta, PASTI Indonesia – Proses pemungutan suara di Kabupaten Fakfak memang telah usai, dan tentunya bagi mereka yang hanya berpikir tentang kue kekuasaan dan haus akan jabatan, menganggap semua ini telah final. Apalagi bagi mereka yang berteriak “Anti Korupsi” namun konsistensinya hanya sebatas Koar Medsos dan standar ganda, dimana jika korupsi itu terjadi dan dilakukan oleh barisan atau kelompok sendiri, maka memilih diam. Namun paling ambisi berdiri didepan kalau menyangkut pembagian kue kekuasaan.

Banyak Skandal dalam Pilkada Fakfak 2020

Pilkada Fakfak 2020, melahirkan banyak drama. mulai dari drama Independen yang dimana tujuan daripada lahirnya hanya untuk memutus langkah politik “Anak Negeri” yang  juga maju melalui jalur independen.

Dukungan GANDA dan Pura-Pura menjadi Musuh Utama Mocha

Cantik memang permainan politik dan drama Pilkada Fakfak 2020 ini, sejak awal diciptakan seolah terjadi perselisihan antara Bupati Fakfak, Mocha dengan Untung Tamsil. sehingga, publik opini khususnya dimasyarakat awam terbangun bahwa ini bukanlah kelompok yang sama! namun fakta yang terjadi adalah suara dukungan ganda sengaja diloloskan untuk Untung Tamsil, guna membabat kandidat lain yang merupakan Anak Negeri, yakni Donatus Nimbitkendik. Karena apa? jika Donatus lolos, maka akan menjadi khas besar untuk membongkar borok rezim Mocha. Jika Untung Tamsil yang lolos, tidak mungkin seorang murid akan memukul gurunya sendiri bukan? toh sama-sama satu barisan dan dibimbing dengan baik oleh Bahlil serta diberikan kesempatan oleh Mocha menjadi Kepala Dinas.

Sejak Awal Sudah Di Setting Rapi hanya Dua Kandidat!

Sejak awal Pilkada ini memang sudah di seting dengan rapi, bahwa yang boleh lolos ini hanya dua kandidat, yang notabenenya adalah barisan sendiri! maka tidak heran sejak awal banyak skandal pelanggaran yang sengaja diloloskan oleh penyelenggara pemilu, yakni soal dukungan ganda dan PNS yang memalsukan data guna memberikan dukungan pada independen yakni Paslon UTAYOH (sudah dilaporkan ke Bareskrim, sebagai pidana pemilu).

Dimajukan bukan untuk Menang, namun hanya untuk membabat kandidat Independen lain!

Sebagaimana yang telah ditelaah PASTI Indonesia dengan seksama, bahwa sejak awal memang kandidat ini tidak dipersiapkan maju untuk menang, dan tidak bertarung untuk menang selain hanya untuk “membunuh kandidat independen lain yang berasal dari anak negeri“, adapun kemenangan tersebut hanya karena Anugerah Video Mantan ketua PASTI Indonesia (yang telah dilaporkan juga ke Bareskrim POLRI (proses penyelidikan, sudah dimintai keterangan), yang dimana Mantan Ketua PASTI Indonesia, Arlex juga sebagai terlapor oleh PASTI Indonesia selaku Lembaga). Dimana pada saat last hit, karena video tersebut, suara pemilih berubah signifikan untuk kemenangan Untung Tamsil, dalam hal ini kemenangan tersebut ibarat “Menang Kaget” karena itu tidak mengherankan,sebagaimana pengakuan Arlex, bahwa Lex menyarankan usai pemungutan suara maka langkah kongkrit yang harus dilakukan selanjutnya adalah pelaporan seluruh kasus-kasus korupsi Kabupaten Fakfak yang  diduga dilakukan oleh rezim Mocha selama 10 Tahun ini.

Namun Faktanya, hal itu urung dilakukan, karena apa? karena sesungguhnya, Untung ini adalah bagian dari kelompok yang sama, yang dimunculkan dan dimajukan hanya untuk sebatas kepentingan membunuh kandidat independen lain. Selain itu yang paling fatal adalah Untung Tamsil ini terlibat dalam Proyek Fiktif dan Markup, dimana didalamnya juga dibumbui Nepotisme (sudah dilaporkan ke KPK dan Bareskrim, kini sedang dalam proses penyelidikan). Jadi bagaimana mau melaporkan? bagaimana membersihkan Korupsi Kabupaten, Wong Korupsi juga!!!

Skandal Surat 501 versi Baru, yakni Surat Sakti No.580

Sejurus dengan peribahasa guru kencing berdiri, murid kencing berlari. kisah lama pada Pilkada terdahulu yakni 2015, kembali terulang pada pilkada 2020 kini! jika pada 2015 ada surat sakti 501 yang sulit di jelaskan KPU RI dan dimana KPU RI tidak dapat menunjukkan bukti surat otentiknya, maka kini terbit surat sakti dengan  No.580,yang dimana isinya menabrak aturan KPU itu sendiri yakni Keputusan KPU RI No.82/PL.02.2-Kpt/06/KPU/II/2020, Tentang pedoman teknis penyerahan dukungan dan verifikasi bakal pasangan calon perseorangan dalam pemilihan Gubenur & Wakil Gubenur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota.

Jika pada 2015 melibatkan nama almarhum Husni Kamil Manik, maka pada 2020 ini melibatkan Ketua KPU RI, Arief Budiman yang dimana diketahui memiliki banyak skandal dan juga adalah “Pemain“, yang dimana oleh DKPP sendiri telah disanksi dan diberhentikan sebagai Ketua KPU RI. Dan yang paling luar biasanya adalah, Surat “Sakti KPU No.580/PL.02.2-SD/06/KPU/VII/2020” ini sangat ekspres baik dari tenggang waktu terkait jawabannya hingga tiba di fakfak hanya membutuhkan 1 (satu) hari saja.

hingga saat ini, demikian halnya serupa sejarah 501, KPU RI sendiri belum memberikan jawaban kongkrit atas surat PASTI Indonesia yang mempertanyakan dan meminta klarifikasi KPU atas surat sakti No.580 tersebut. PASTI Indonesia sendiri telah menyiapkan laporan DKPP serta dugaan Pidana Rekayasa Surat terkait persoalan ini.

Penyelenggaran Pemilu Terlibat!

Penyelenggara Pemilu dalam hal ini Komisioner Bawaslu Kab Fakfak dan Komisioner KPU Kab Fakfak juga turut dilaporkan dalam kasus Pidana Pemilu ke Bareskrim POLRI (dalam proses Penyelidikan),dimana selain terlibat dalam skandal “membunuh kandidat independen lain” dengan sengaja meloloskan suara ganda bagi paslon UTAYOH. Video Mantan ketua PASTI Indonesia itu terjadi pada saat masa tenang, namun Bawaslu dan KPU Kabupaten Fakfak sengaja mengindahkan itu, yang dimana sengaja memberikan keuntungan bagi UTAYOH. Dan yang terfatal adalah oknum berstatus PNS, melakukan pemalsukan data guna memberikan dukungan pada Paslon Utayoh, namun dalam verifikasi faktual, hal tersebut sengaja diloloskan. Sedangkan pada paslon independen lain, seperti Donatus Nimbitkendik, perilaku diskriminatif seolah di pertontonkan!

CUKONG SAWIT dibalik dukungan Independen

Agaknya cukup mengelitik, ketika  disatu sisi seolah menjual dan menawarkan perubahan dengan angan-angan Rezim Baru serta berbicara soal kepentingan Negeri, namun realitasnya wajah lama dan Mafia Hutan yang terlibat. Sebut saja Jeff Setiawan Winata, cukong sawit di Kabupaten Fakfak yang menjadi Donatur. Seperti yang sudah PASTI Indonesia angkat sebelumnya, Jeff terlibat dalam skandal perampasan tanah ulayat masyarakat, dimana selain itu terjadi Ilegal logging dan pengrusakan lingkungan. Di sisi lain mayoritas Masyarakat Adat menolak Sawit di Tanah Papua, terkhusus Fakfak, Fakfak sejak dahulu kala, terkenal sebagai kota Pala bukan Kota Sawit. Sebagaimana Mocha pada pilkada 2010, janji manis juga banyak ditebar dan membuat banyak orang terkagum-kagum, realitasnya? Janji ya tinggal janji, Fakta paling nyata saja, 10 Tahun ini, Fakfak seolah dibuat tidak berdaya, Anak Negeri dibuat tidak mampu maju menjadi sebagai pemimpin di daerahnya sendiri. OTSUS???

KORUPSI namun NGAKU BERSIH!

Kedua kandidat sudah dilaporkan PASTI Indonesia kepada KPK, baik Paslon SADAR maupun UTAYOH! namun yang agak miris adalah, jika paslon SADAR digambarkan sejak awal kepada masyarakat sebagai tokoh Jahat, lalu lebih buruk mana, mereka yang MUNAFIK? yang mengembor-gemborkan dalam kampanye kepada masyarakat sebagai kandidat bersih, namun Faktanya KORUPSI dan NEPOTISME! itu baru waktu kelas Kepala Dinas, bagaimana nanti jika menjadi seorang BUPATI? artinya teriak REZIM BARU, faktanya REZIM BAU!!!

Lebih berbahaya mereka yang munafik, daripada mereka yang digambarkan Jahat! orang munafik, lain perkataan, lain perbuatan. Judul REZIM BARU, Praktik tetap REZIM BAU!!!  (sky)

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

On Facebook

Trending