“Pegang Kepala Lepas Ekor, Lepas Ekor Pegang Kepala” Kemunafikan Konservasi: Ketika Satwa Diangkat, Adat Dibakar, dan Rakyat Papua Mati Setiap Hari

by -2070 Views

PERNYATAAN SIKAP PUBLIK

PERHIMPUNAN PASTI INDONESIA

“Pegang Kepala Lepas Ekor, Lepas Ekor Pegang Kepala” Kemunafikan Konservasi: Ketika Satwa Diangkat, Adat Dibakar, Hutan Digusur, dan Rakyat Papua Mati Setiap Hari

Tangerang, 24 Oktober 2025

Perhimpunan PASTI Indonesia menyampaikan pernyataan sikap publik atas tindakan pembakaran topi adat Papua oleh aparat negara, termasuk pejabat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, dalam sebuah seremoni resmi yang melibatkan TNI dan POLRI. Tindakan ini bukan hanya pelanggaran etika, tetapi juga bentuk kekerasan simbolik yang melukai martabat budaya masyarakat adat Papua dan memperdalam jurang ketidakpercayaan terhadap negara.

Simbol Adat Bukan Barang Bukti—Ia Adalah Jiwa Kolektif

Topi adat Papua bukan benda mati. Ia adalah simbol spiritualitas, sejarah, dan identitas kolektif masyarakat adat. Ketika negara membakarnya, maka yang terbakar bukan hanya bulu dan anyaman, tetapi harga diri dan kepercayaan rakyat Papua. Pembakaran ini tidak memiliki faedah ekologis, edukatif, atau hukum. Yang ada hanyalah pemantik kemarahan, pelecehan simbolik, dan penghinaan terhadap budaya lokal.

Cenderawasih Diarak, Habitatnya Dihancurkan

Burung surga Papua, Cenderawasih, sering dijadikan simbol seremoni, maskot konservasi, bahkan lambang nasionalisme ekologis. Namun apa gunanya mengarak bulunya, jika hutan tempat ia hidup digusur oleh alat berat? Apa gunanya bicara pelestarian, jika transmigrasi dan proyek Food Estate justru membuka jalan bagi deforestasi besar-besaran?

Cenderawasih tidak hidup di panggung seremoni. Ia hidup di hutan yang kini digunduli.

Transmigrasi Digulirkan, Wilayah Adat Terancam

Kini, program transmigrasi kembali digerakkan di Papua. Di atas tanah adat yang belum direstitusi, di tengah konflik yang belum diselesaikan, dan di wilayah ekosistem yang seharusnya dilindungi. Transmigrasi bukan sekadar pemindahan penduduk—ia adalah pergeseran demografi, perubahan lanskap sosial, dan ancaman terhadap keberlangsungan budaya lokal.

Ketika hutan digusur dan penduduk luar masuk, maka masyarakat adat kehilangan ruang hidup, kehilangan sejarah, dan kehilangan kendali atas tanahnya sendiri.

Adat Dibakar, Rakyat Dihina

Pembakaran topi adat Papua oleh aparat negara, termasuk pejabat BBKSDA, bukan sekadar tindakan administratif. Ia adalah penghinaan terhadap spiritualitas, sejarah, dan martabat masyarakat adat. Simbol adat bukan ornamen seremoni. Ia adalah jiwa kolektif. Ketika negara membakarnya, maka yang terbakar bukan hanya bulu dan anyaman, tetapi harga diri dan kepercayaan rakyat Papua.

Rakyat Papua Mati Setiap Hari

Di tengah seremoni dan retorika konservasi, orang asli Papua terus mati—setiap hari.

  • Mati karena mutu kesehatan yang buruk, tanpa akses obat dan tenaga medis.
  • Mati karena konflik bersenjata, tertembak di ladang, di jalan, di rumah sendiri.
  • Mati karena stigma OPM, meski mereka hanya rakyat sipil biasa yang salah sasaran.

Kematian orang Papua bukan statistik. Ia adalah luka yang terus dibiarkan terbuka.

Belajar dari Luka: Jangan Ulangi Kerusuhan Papua 2019

Indonesia pernah mengalami kerusuhan Papua 2019, yang dipicu oleh pelecehan identitas dan rasisme terhadap mahasiswa Papua.

  • Lebih dari 30 orang tewas, ratusan luka-luka.
  • Kantor pemerintah, sekolah, dan rumah warga dibakar.
  • Ketegangan meluas ke Manokwari, Sorong, Fakfak, Timika, Jayapura, dan Wamena.

Akar kemarahan saat itu adalah penghinaan terhadap martabat Papua. Jika negara kembali gagal menghormati simbol adat, maka trauma sosial akan terulang, dan kepercayaan terhadap pemerintah akan runtuh.

Peringatan Keras: Jangan Biarkan Papua Membara

Kami memperingatkan:

  • Jangan biarkan kematian orang Papua menjadi rutinitas yang tak dianggap.
  • Jangan biarkan stigma menggantikan keadilan.
  • Jangan biarkan simbol adat dibakar, sementara tubuh rakyat Papua terus jatuh tanpa perlindungan.
  • Jangan biarkan transmigrasi menjadi alat penggusuran budaya dan ekosistem.

Jika negara tidak segera bertindak, maka Papua akan membara bukan karena provokasi, tetapi karena luka yang dibiarkan terbuka.

Seruan Keadilan

Kami menyerukan kepada seluruh institusi negara, terutama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan:

  • Hentikan kemunafikan konservasi.
  • Hormati simbol adat, bukan bakar.
  • Lindungi habitat satwa, bukan gusur.
  • Libatkan masyarakat adat, bukan abaikan.
  • Hentikan proyek transmigrasi dan Food Estate di wilayah adat.
  • Jangan jadikan Papua panggung seremoni, sementara hutan dan budaya mereka dihancurkan di belakang layar.
  • Jangan biarkan rakyat Papua terus mati dalam diam, tanpa perlindungan, tanpa pengakuan.

Hormat kami, PASTI INDONESIA (Perhimpunan Persatuan Aksi Solidaritas untuk Transparansi dan Independensi Indonesia)

Susanto, S.H (Arlex Long Wu) Direktur PASTI Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.