81 Tahun Merdeka, Dua Tahun Pemerintahan Omon-Omon: Antara Panggung Elite dan Jeritan Daerah

by -182 Views

Di sebuah pasar tradisional, seorang ibu menatap bawang merah dengan mata berkaca. Tangannya gemetar, bukan karena pedih bawang, melainkan karena pedih harga. Rp39 ribu/kg, cukup membuat kantongnya sesak. Ia menimbang, apakah uangnya cukup untuk membeli bawang, atau lebih baik membeli beras.

Di televisi, Presiden dengan gagah menyebut “upah kupas bawang Rp700 ribu/kg.” Rakyat pun terdiam, lalu tertawa getir. Bagaimana mungkin seorang pemimpin menyebut angka yang begitu absurd? Jawabannya sederhana: ia hanya mendengar dari pembisik, bukan dari rakyat.

Inilah wajah kepemimpinan ABS — Asal Bapak Senang. Presiden puas dengan teks yang disodorkan, meski jauh dari realitas. Rakyat hanya jadi penonton sandiwara.

81 TAHUN KEMERDEKAAN: PANGGUNG DAN LUKA

Jakarta merayakan HUT RI ke-81 dengan pesta mewah: ribuan drone menghiasi langit, jet tempur Rafale beratraksi di Istana, kembang api membakar malam. Presiden tersenyum puas, elite bertepuk tangan.

Namun di sudut lain negeri ini, NTT masih berduka. Gempa merobohkan ribuan rumah, bayi lahir di tenda darurat, masyarakat bertahan hidup di bawah terpal. Ironi ini semakin pahit: kemerdekaan hanya terasa di panggung elite, bukan di kehidupan rakyat.

FENOMENA ABS: PEMBISIK LEBIH BERKUASA DARI RAKYAT

Presiden membaca teks, bukan realitas. Ia mendengar bisikan, bukan suara rakyat. Fenomena ABS — Asal Bapak Senang menjadikan pemimpin puas dengan angka yang salah kaprah.

Rakyat hanya jadi penonton sandiwara. Mereka tahu, setiap kata yang keluar dari podium hanyalah hasil bisikan, bukan hasil pengamatan. Presiden hidup di menara gading, jauh dari pasar, jauh dari dapur rakyat.

DUA TAHUN PEMERINTAHAN OMON-OMON

Dua tahun berlalu, rakyat hanya mendengar slogan, bukan solusi.

  • ABS Prabowo: Presiden lebih percaya pada bisikan elite daripada suara rakyat di pasar.
  • Omon-omon: Janji besar diumbar, tetapi rakyat tetap berjuang dengan harga pangan yang mencekik.
  • MBG keracunan: Rakyat kecil menjadi korban kelalaian, sementara elite sibuk berdebat angka pertumbuhan.
  • Korupsi merajalela: Pemerintah berteriak “buru koruptor hingga ke Antartika”, tetapi lupa bahwa koruptor justru ada di antar kita.

ANTARTIKA VS ANTAR KITA

Pemerintah berteriak lantang: “Buru koruptor hingga ke Antartika!” Slogan yang terdengar gagah, tetapi kosong. Karena faktanya, koruptor justru ada di antar kita: di meja rapat, di kursi birokrasi, di lingkaran kekuasaan.

Rakyat menunggu keberanian nyata, bukan retorika. Rakyat menunggu tindakan, bukan slogan.

JERITAN DAERAH: ACEH, PAPUA, KALIMANTAN

Sementara Jakarta jor-joran buang anggaran untuk pesta, daerah dipaksa melakukan efisiensi.

  • Aceh berteriak karena dana otsus yang terus dipangkas, sementara kemiskinan tetap tinggi.
  • Papua berteriak karena krisis pangan, konflik bersenjata, dan tragedi MBG keracunan yang merenggut nyawa anak-anak.
  • Kalimantan berteriak karena hutan digunduli atas nama pembangunan, sementara rakyat adat kehilangan tanah dan identitas.

Instruksi efisiensi dari pusat membuat daerah harus menunda proyek vital, memangkas belanja, bahkan menunggak gaji ASN. Ironi ini semakin tajam: daerah ditekan, pusat berpesta.

DERITA GEMPA NTT

Bayangkan seorang bapak di NTT, rumahnya hancur akibat gempa. Ia duduk di tenda darurat, menatap anaknya yang menangis kelaparan. Di Jakarta, langit dihiasi ribuan drone, jet tempur Rafale beratraksi, kembang api membakar malam. Presiden tersenyum puas, sementara rakyat di tenda hanya bisa berkata: “Apakah ini yang disebut merdeka?”

Bayangkan seorang buruh kupas bawang di Sukabumi. Tangannya kapalan, matanya pedih, upahnya Rp500/kg. Ia mendengar Presiden berkata Rp700 ribu/kg. Ia tertawa getir, lalu berkata: “Mungkin Presiden tidak pernah melihat kami bekerja.”

Bayangkan seorang ibu di pasar. Ia menimbang bawang, menimbang beras, menimbang masa depan anaknya. Ia mendengar pidato Presiden, lalu berkata: “Merdeka? Kami hanya merdeka dari perhatian pemimpin.”

PENEGASAN PASTI INDONESIA

PASTI Indonesia menegaskan bahwa kemerdekaan ke-81 ini bukanlah pesta elite, melainkan ujian moral bangsa. Jika Presiden hanya mendengar bisikan, maka rakyat hanya akan mendengar janji kosong. Jika pemerintah hanya sibuk dengan pesta mewah, maka rakyat hanya akan sibuk dengan penderitaan.

Bangsa ini merdeka dari penjajah, tetapi belum merdeka dari ketidakmampuan pemimpinnya memahami rakyatnya sendiri. Bangsa ini merdeka dari kolonialisme, tetapi belum merdeka dari ABS, omon-omon, dan korupsi yang merajalela.

“Buru koruptor hingga ke Antartika hanyalah slogan. Yang lebih penting adalah berani memburu koruptor yang ada di antar kita.”

Kemerdekaan bukanlah panggung sandiwara, melainkan janji konstitusi: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

MERDEKA ITU BUKAN MEREKA

PASTI Indonesia menegaskan dengan lantang: MERDEKA ITU BUKAN MEREKA. Bukan mereka yang duduk di kursi empuk kekuasaan, menatap pesta kembang api dari balkon istana, sambil menutup mata terhadap tangisan rakyat di tenda pengungsian. Bukan mereka yang menulis angka-angka di naskah pidato, tanpa pernah menatap wajah ibu-ibu di pasar yang menimbang masa depan anaknya dengan uang receh. Bukan mereka yang berteriak “buru koruptor hingga ke Antartika,” sementara koruptor justru duduk di meja rapat, tersenyum di antara kita.

Merdeka itu harus dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Oleh petani yang menanam padi di tanah yang mulai kering karena anggaran irigasi dipangkas atas nama efisiensi. Oleh buruh yang mengupas bawang dengan tangan kapalan, bukan oleh mereka yang mengupas kekuasaan dengan tangan licin. Oleh rakyat di Aceh yang berteriak karena dana otsus terus dipangkas, di Papua yang berjuang di tengah konflik dan kelaparan, di Kalimantan yang kehilangan hutan dan tanah adatnya atas nama pembangunan.

Jakarta boleh jor-joran buang anggaran untuk pesta kemerdekaan, tapi kemerdekaan sejati tidak diukur dari jumlah drone di langit atau jet tempur di udara — melainkan dari keadilan yang turun ke bumi.

Merdeka bukanlah panggung elite. Merdeka adalah napas rakyat. Merdeka bukanlah pesta di istana. Merdeka adalah senyum di wajah ibu di pasar, tawa anak di tenda pengungsian, dan harapan di dada buruh yang masih percaya bahwa bangsa ini bisa adil.

MERDEKA ITU BUKAN MEREKA. MERDEKA ITU KITA. Kita yang bekerja, kita yang berjuang, kita yang menanggung beban negeri ini. Dan selama kemerdekaan hanya dinikmati oleh segelintir yang memegang kue kekuasaan, maka bangsa ini belum benar-benar merdeka. (admin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.