Seknas PI, Jakarta – PASTI Indonesia menilai bahwa majunya Wakil Gubernur Papua Barat, Mohammad Lakotani (MOLA) – yang juga menjabat sebagai Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Papua Barat – untuk menjadi Ketua KONI Papua Barat, adalah langkah yang tidak tepat.
Sebagai Wakil Gubernur yang kini memasuki periode kedua, MOLA seharusnya meneguhkan diri sebagai pendamping sejati Gubernur, hadir dalam setiap kegiatan, menguatkan setiap kebijakan, dan memastikan roda pemerintahan berjalan kokoh hingga akhir masa bakti. Pengabdian sejati seorang pemimpin bukanlah dengan membuka panggung politik baru, melainkan dengan kesetiaan mendampingi kepemimpinan utama sampai tuntas.
Dalam filosofi kelembagaan, seorang “Orang Tua” akan sangat arif bila membuka jalan bagi “anak-anaknya” untuk berperan dalam pemerintahan saat ini. Figur-figur yang memiliki semangat pengabdian, baik yang masih aktif maupun yang telah purna tugas, harus diberi ruang melalui pintu KONI Papua Barat. Dengan demikian, energi kepemimpinan yang telah teruji tidak berhenti, melainkan dialihkan untuk membangun olahraga, membentuk karakter, dan menyalakan semangat juang masyarakat Papua Barat.
KONI bukanlah arena perebutan politik, melainkan arena pengabdian. Maka, alangkah bijaksananya bila Wagub fokus pada amanah besar yang sudah diemban – mendampingi Gubernur dan meneguhkan peran strategis di Pramuka – sementara KONI menjadi wadah bagi figur-figur pengabdian yang siap melanjutkan kiprah mereka demi rakyat Papua Barat.
Pendampingan Sebagai Mahkota Pengabdian
Periode kedua bukanlah ruang untuk mencari panggung baru, melainkan ruang untuk menyempurnakan pengabdian. Dalam struktur pemerintahan, Wakil Gubernur bukanlah pesaing, melainkan penopang utama bagi Gubernur. Ia adalah tangan kanan, penguat, dan penjaga keseimbangan kepemimpinan.
PASTI Indonesia menegaskan: pengabdian seorang Wakil Gubernur akan dinilai dari kesetiaan mendampingi, bukan dari ambisi merebut panggung lain. Masyarakat Papua Barat tidak menunggu janji politik, mereka menunggu kehadiran nyata – hadir di setiap kegiatan, berdiri di samping Gubernur, memastikan bahwa kepemimpinan berjalan tegak hingga akhir masa bakti.
Pendampingan ini adalah mahkota pengabdian. Sebuah tanda bahwa seorang pemimpin mampu menundukkan ego pribadi demi kepentingan rakyat. Sebuah bukti bahwa jabatan bukanlah alat untuk mengejar ambisi, melainkan sarana untuk menjaga kehormatan pemerintahan.
Di sinilah letak kebijaksanaan: seorang “Orang Tua” yang arif tidak menutup jalan bagi “anak-anaknya”. Justru ia membuka ruang, memberi kesempatan, dan menyalurkan energi pengabdian mereka melalui wadah yang tepat – KONI Papua Barat. Figur-figur yang ingin mengabdi, termasuk mereka yang telah purna tugas, dapat melanjutkan kiprah mereka di KONI. Dengan begitu, olahraga menjadi pintu pengabdian, bukan arena perebutan politik.
Pramuka Pilar Karakter, Waktunya Fokus Berbenah
Gerakan Pramuka Papua Barat adalah pilar pembentukan karakter generasi muda. Di sinilah anak-anak Papua ditempa dengan disiplin, kebersamaan, dan cinta tanah air. Amanah ini sesungguhnya jauh lebih strategis daripada sekadar ambisi politik. Seorang Wakil Gubernur yang juga KaKwarda seharusnya menjadikan Pramuka sebagai benteng moral, tempat lahirnya generasi yang berjiwa kuat dan berkarakter.
Namun, perjalanan Pramuka Papua Barat tidak selalu mulus. Ada catatan yang menimbulkan sorotan publik, mulai dari pengelolaan dana yang dipertanyakan hingga dinamika internal yang memberi kesan bahwa Pramuka dijadikan alat kepentingan. Semua ini menjadi tanda penting bahwa Pramuka harus kembali ke jati dirinya.
Di titik inilah, lebih tepat bagi Wagub MOLA untuk fokus berbenah di Pramuka. Sebagai KaKwarda, beliau memiliki tanggung jawab besar untuk mengembalikan marwah Pramuka, membersihkan luka masa lalu, dan meneguhkan kembali peran Pramuka sebagai wadah pembinaan karakter. Daripada sibuk mencari tugas baru sebagai Ketua KONI Papua Barat, langkah yang lebih bijak adalah menyempurnakan amanah yang sudah ada.
Pramuka membutuhkan perhatian penuh, pembenahan serius, dan kepemimpinan yang berkomitmen. Bila langkah ini dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka masyarakat akan menilai pengabdian Wagub sebagai nyata, bukan sekadar strategi politik. Dengan berbenah di Pramuka, Wagub akan meninggalkan warisan pengabdian yang lebih mulia daripada sekadar jabatan baru.
Sebagai “orang tua”, Wagub harus arif: fokus mendampingi Gubernur, memperkuat kepemimpinan daerah, dan meneguhkan peran strategis di Pramuka. KONI biarlah menjadi ruang pengabdian bagi figur-figur lain, sementara Pramuka harus dibersihkan, dibenahi, dan dikembalikan sebagai pilar karakter bangsa, tegas Direktur PASTI Indonesia.
KONI Sebagai Ruang Pengabdian” Anak-anak” membantu orang tuanya yakni Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Barat
KONI Papua Barat harus dipahami sebagai ruang pengabdian, bukan arena perebutan politik. Di sinilah “anak-anak” – yakni figur-figur yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan semangat untuk membangun olahraga – dapat mengambil peran nyata. Mereka hadir bukan untuk bersaing dengan “orang tua”, melainkan untuk membantu Gubernur dan Wakil Gubernur dalam meringankan tugas pemerintahan.
Figur-figur yang memiliki latar belakang kepemimpinan daerah, termasuk mereka yang telah purna tugas sebagai bupati di Papua Barat, adalah sosok yang tepat untuk berkiprah melalui KONI. Nama seperti Yosias Saroy dan Markus Waran adalah contoh nyata: mereka telah selesai dengan panggung politik, namun masih memiliki energi dan komitmen untuk mengabdi. KONI menjadi jalan bagi mereka untuk menyalurkan pengabdian, membangun olahraga, dan memperkuat karakter masyarakat Papua Barat.
Dengan memberi ruang kepada figur-figur tersebut, KONI akan menjadi wadah pengabdian yang mulia. Sementara itu, Wakil Gubernur MOLA dapat lebih fokus pada tugas utamanya: mendampingi Gubernur dalam periode kedua pemerintahan DOAMU Jilid 2. Pembagian peran ini akan meringankan beban kepemimpinan, menjaga keseimbangan, dan memastikan pembangunan daerah berjalan dengan kokoh.
Pandangan Direktur PASTI Indonesia
Periode kedua pemerintahan Papua Barat adalah panggung pengabdian, bukan panggung ambisi. Sejarah tidak akan mencatat siapa yang sibuk mencari jabatan baru, melainkan siapa yang setia mendampingi hingga akhir.
Wakil Gubernur MOLA harus menyadari: pengabdian sejati bukanlah dengan menambah kursi, melainkan dengan menyempurnakan amanah yang sudah ada. Pramuka membutuhkan pembenahan, membutuhkan kepemimpinan yang berkomitmen, dan membutuhkan keberanian untuk membersihkan luka masa lalu. Itulah warisan yang akan dikenang, bukan sekadar kursi baru di KONI.
KONI biarlah menjadi ruang pengabdian bagi “anak-anak” – figur-figur purna tugas, pegiat olahraga, dan mereka yang siap mengabdi. Dengan demikian, beban pemerintahan DOAMU Jilid 2 akan lebih ringan, karena “orang tua” tetap fokus mendampingi Gubernur, sementara “anak-anak” mengambil peran melalui KONI. (admin)
Ambisi pribadi hanya akan melahirkan kegaduhan, tetapi pengabdian sejati akan melahirkan sejarah. Wagub MOLA harus memilih jalan arif – berbenah di Pramuka, mendampingi Gubernur, dan meninggalkan jejak pengabdian, bukan jejak ambisi.



