Papua adalah benteng terakhir ekologi Nusantara. Jika tidak dijaga sekarang, ia akan mengalami nasib serupa dengan Sumatera dan Kalimantan: banjir bandang, longsor, hilangnya hutan, dan hancurnya kehidupan masyarakat adat.
Perhimpunan PASTI Indonesia, menyatakan dengan tegas bahwa Papua adalah benteng terakhir ekologi Nusantara. Di tengah kehancuran hutan Sumatera dan Kalimantan akibat deforestasi, tambang, dan ekspansi sawit, Papua masih menyimpan harapan: hutan hujan tropis yang luas, biodiversitas unik, dan masyarakat adat yang hidup selaras dengan alam.
Namun, ancaman kini nyata. Program food estate di Merauke dan ekspansi perkebunan sawit telah membuka pintu bagi kerusakan sistematis. Jika tidak dihentikan, Papua akan menyusul nasib tragis Sumatera dan Kalimantan. Kehancuran Papua berarti kehancuran Indonesia.
Belajar dari Musibah Nusantara
- Sumatera: Banjir bandang dan longsor menelan ratusan korban jiwa. Hilangnya tutupan hutan di Aceh, Batang Toru, dan Sumatera Barat memperparah bencana hidrometeorologi.
- Kalimantan: Ekspansi sawit dan tambang batubara mengubah sungai menjadi keruh, memicu banjir besar, dan menghancurkan ruang hidup masyarakat Dayak.
Pelajaran: Kerusakan hutan bukan sekadar kehilangan pepohonan, melainkan kehilangan sistem penyangga kehidupan, hilangnya budaya, dan lenyapnya harapan generasi mendatang.
Ancaman Nyata bagi Papua
Food Estate di Merauke
- Mengeringkan lahan rawa dan sungai yang rapuh.
- Menghapus tanah adat dan sumber pangan tradisional masyarakat Papua.
- Mengancam siklus hidrologi dan memicu krisis air.
Ancaman Sawit: Mengulang Tragedi Kalimantan & Sumatera
Papua saat ini menjadi target baru ekspansi sawit, karena di Sumatera dan Kalimantan lahan sudah jenuh.
- Data menunjukkan bahwa izin perkebunan sawit di Papua terus meningkat, dengan rencana pembukaan ratusan ribu hektar.
- Dampak langsung yang tak terbantahkan:
- Hilangnya hutan primer Papua yang selama ini menjadi benteng terakhir biodiversitas Indonesia.
- Punahnya spesies endemik seperti cenderawasih, kanguru pohon, dan flora unik Papua.
- Emisi karbon melonjak: hutan Papua adalah penyerap karbon global. Jika rusak, dunia ikut menanggung akibatnya.
Konsekuensi Sosial-Ekologis
- Banjir bandang, longsor, dan krisis pangan.
- Punahnya biodiversitas dunia.
- Hilangnya ruang hidup masyarakat adat Papua.
Seruan Moral dan Politik
Papua bukan sekadar tanah, ia adalah warisan dunia. Kehancuran Papua berarti kehancuran Nusantara. Sumatera sudah menangis, Kalimantan sudah merintih. Jangan biarkan Papua menyusul.
Kami menyerukan:
- Hentikan food estate yang merusak.
- Cegah ekspansi sawit di Papua.
- Lindungi tanah adat dan hak masyarakat Papua.
- Tetapkan Papua sebagai benteng ekologi Nusantara.
Komitmen dan Tuntutan PASTI Indonesia
Kami, PASTI Indonesia, menegaskan komitmen:
- Kepada Pemerintah Indonesia: hentikan kebijakan yang merusak hutan Papua, prioritaskan perlindungan ekologis dan hak masyarakat adat.
- Kepada Masyarakat Sipil: bangun solidaritas nasional untuk menjaga Papua.
- Kepada Komunitas Internasional: dukung Papua sebagai paru-paru dunia, hentikan investasi yang merusak.
Manifesto ini adalah peringatan sekaligus seruan. Jika Papua hancur, maka Indonesia kehilangan benteng terakhir ekologi. Saatnya bertindak sekarang—bukan besok, bukan nanti.
Papua harus dijaga demi masa depan Nusantara dan dunia. Papua adalah hidup kita, harapan kita, dan warisan kita.





